"Aku melihat masalah besar di sini," gumam Narendra.

"Masalah besar?" Kanha menyela dengan nada penasaran. "Bukankah itu berarti kita harus mengalahkan mereka berdua?"

"Benar," jawab Narendra sambil menatap Lynx. "Jika mereka menang, suku Raksa tidak akan bisa dipersatukan dan tidak punya kesempatan untuk bangkit lagi. Mereka hanya akan jadi alat kekuasaan Monrest."

Lynx memandang ke arah Rira. "Berapa lama lagi pertandingan dimulai?"

"Beberapa hari," jawab Rira. "Lokasinya cukup jauh dari sini. Biasanya diadakan di Arena Batu, tempat tradisional di tengah hutan."

Lynx terdiam sejenak, lalu mulai menceritakan rencananya. "Tujuanku di sini bukan hanya mencari dukungan. Aku ingin menyatukan semua suku di pulau ini. Sinto dan Uksa sudah siap untuk melawan Monrest. AKu ingin Raksa juga bergabung bersama kami. Jika kalian bergabung, kita punya kesempatan untuk melawan."

Rira tampak terkejut, begitu pula ayahnya. "Melawan Monrest?" tanya ayah Rira dengan suara bergetar. "Itu... itu gila. Monrest tidak seperti musuh biasa."

"Kami tahu risiko itu," kata Narendra, suaranya tegas. "Tapi Monrest akan terus menyerang, terus menghancurkan, sampai tidak ada yang tersisa. Bertahan sendirian tidak akan cukup."

Ayah Rira menunduk, memikirkan kata-kata Narendra. Rira menggigit bibirnya, terlihat takut tapi juga berpikir.

"Kalian sudah meyakinkan Sinto dan Uksa?" tanya Rira akhirnya.

Lynx mengangguk. "Mereka siap. Tapi mereka juga tahu bahwa tanpa suku-suku yang lain bergabung, kita mungkin tidak akan berhasil."

Rira terdiam beberapa saat sebelum mengangguk pelan. "Baiklah. Aku dan keluargaku akan membantu. Tapi... aku tidak yakin kelompok lain di Raksa akan setuju, meskipun ayahku dulunya adalah tetua dari suku Raksa. Terutama jika Banu atau Arkha yang menang."

"Paman Raka tetua suku Raksa?" tanya Narendra dengan kaget.

"Ayahku terluka saat suku Monrest menyerang kampung kami. Karena itu ayah tidak ikut saat pertempuran melawan suku Monrest," cerita Rira dengan wajah bersedih.

"Kalau begitu, kita harus memastikan mereka tidak menang," kata Lynx, nada suaranya tegas.

Narendra mengangguk setuju. "Aku akan ikut bertanding."

Rira menoleh dengan kaget. "Kau? Tapi pertandingan ini berbahaya! Kau tidak akan bisa mengalahkan mereka sendirian!"

Narendra tersenyum kecil, menoleh ke arah Lynx. "Aku tidak sendirian. Aku punya guru yang hebat."

Lynx tersenyum tipis, lalu berkata dengan tenang, "Aku juga akan ikut bertanding."

"Benarkah?" Rira memandangnya dengan ragu. "Tapi... kau bukan orang Raksa. Bagaimana kau bisa ikut?"

Ayah Rira, yang sedari tadi diam, angkat bicara. "Dia bisa mendaftar sebagai bagian dari keluarga kami. Aku akan mendukungnya. Sebagai mantan tetua, aku yakin mereka akan menyetujui permintaanku."

Rira menatap ayahnya dengan kaget. "Ayah!"

"Dia menyelamatkan hidupku, Rira," kata ayahnya tegas. "Jika dia percaya dia bisa membantu kita, maka aku akan mempercayainya."

"Bukankah Arkha menyerahkan pimpinan suku Raksa kepada Banu jika dia menang bertanding. Apakah artinya bisa orang lain mewakili bertanding ?." Tanya Lynx sambil memegang dagunya.

Rira menganggukkan kepala, "Tentu bisa. Pertandingan ini tidak melarang siapapun yang maju. Itu hanya menandakan kemampuan orang  tersebut untuk memiliki orang yang handal di sisinya."

"Jika begitu, aku akan maju dan mewakili ayahmu. Jika menang, maka ayahmu yang akan menjadi ketua suku Raksa. Aku yakin ayahmu sangat bijak dan bisa mempersatukan suku Raksa untuk bekerjasama dengan suku lainnya." Jawab Lynx dengan penuh keyakinan.

"Ayahku?" Rira memandang Lynx tidak percaya. Banyak orang yang menginginkan posisi ini, namun Lynx justru ingin memberikan posisi sepenting itu kepada ayahnya.

Raka ayahnya Rira memandang Lynx dan ingin menolaknya, namun melihat sorot mata yang tajam dan serius, Raka terdiam dan merasa ini hanyalah sebagian kecil dari rencana Lynx untuk mempersatukan seluruh suku di pulau ini.

Rira akhirnya mengangguk, meskipun wajahnya masih tampak cemas. "Baiklah. Kita berusaha dulu untuk memang, mengenai siapa yang memimpin, aku yakin ayahku tetap akan mendukungmu."

Beberapa hari kemudian, mereka mulai perjalanan menuju Arena Batu. Sepanjang perjalanan, Rira tampak gelisah. Ketika mereka berhenti untuk beristirahat di pinggir sungai, Rira akhirnya menceritakan sesuatu yang baru ia dengar.

"Aku mendapat kabar," katanya pelan. "Banu sudah berangkat lebih dulu. Dia membawa semua anggota terkuatnya, termasuk Arkha. Ini bukan pertandingan biasa bagi mereka. Mereka akan melakukan apa saja untuk menang."

Narendra mengangguk, wajahnya serius. "Itu artinya mereka tidak hanya mengandalkan kekuatan. Mereka akan menggunakan taktik kotor juga."

"Apa Arkha sendiri tidak ingin menjadi kepala suku?" tanya Lynx.

Rira menghela napas. "Arkha ingin posisi itu. Tapi keluarganya memutuskan Banu yang harus jadi kepala suku. Dia tetap mendukung Banu, meskipun aku yakin dia tidak sepenuhnya setuju."

"Lalu kenapa Arkha tetap membantu Banu?" tanya Kanha dengan polos.

"Karena kekuatan di Raksa selalu tentang keluarga," jawab Rira. "Meskipun mereka berselisih, mereka tetap bekerja sama untuk mempertahankan posisi mereka."

Lynx mengangguk pelan. "Itu artinya kita harus berhati-hati. Mereka akan melakukan apa saja untuk menang, bahkan jika itu berarti melanggar aturan."

"Dan kita akan memastikan mereka kalah," kata Narendra dengan tekad di matanya.

Perjalanan mereka berlanjut, dengan suasana semakin tegang. Lynx tahu bahwa pertandingan ini bukan hanya soal kekuasaan di suku Raksa. Ini adalah langkah penting untuk menyatukan suku-suku di pulau itu melawan Monrest.

Ketika Lynx, Narendra, Kanha, dan Rira tiba di Arena Batu, tempat itu dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai kelompok suku Raksa. Arena tersebut terletak di tengah lembah kecil yang dikelilingi oleh batuan besar. Di tengahnya, ada lapangan luas dengan tanah yang keras, tempat pertandingan akan berlangsung.

Orang-orang Raksa berkumpul dalam kelompok, beberapa tampak sibuk mempersiapkan senjata, sementara yang lain berbicara dengan nada bersemangat tentang pertandingan yang akan segera dimulai. Lynx bisa merasakan ketegangan di udara—ini bukan hanya tentang kebanggaan, tapi juga tentang masa depan suku Raksa.

Rira memandu mereka melewati kerumunan menuju tempat pendaftaran. Namun, sebelum mereka sampai, sebuah suara yang familiar menghentikan langkah mereka.

"Rira, apa yang kau lakukan di sini?" Banu muncul dari kerumunan, diapit oleh beberapa anak buahnya yang berwajah garang. Matanya menyipit ketika melihat Lynx dan Narendra. "Dan siapa ini? Orang asing?"

Narendra langsung maju selangkah, berdiri tegak di depan Lynx. "Kami di sini untuk mendaftar."

Banu tertawa keras, suaranya menggema di sekitar mereka. Beberapa orang di sekitarnya ikut tertawa, meskipun ada yang hanya tersenyum tipis, terlihat tidak ingin terlibat.

"Kalian? Mendaftar?" Banu menggelengkan kepalanya, masih tertawa. "Ini bukan tempat bermain anak-anak. Bahkan kau, Narendra, aku tidak yakin kau akan bertahan satu putaran."

Narendra mengepalkan tangannya, tapi Lynx menepuk bahunya pelan, memberi isyarat agar dia tenang. Lynx melangkah maju, menatap Banu dengan mata tenang.

"Nama saya Lynx," katanya dengan suara rendah namun tegas. "Aku di sini untuk mewakili keluarga Rira."

Banu berhenti tertawa, matanya menyipit. "Mewakili keluarga Rira? Dan kenapa seorang asing yang mewakili mereka?"

Ayah Rira, yang sudah terlihat lebih kuat setelah sembuh, maju perlahan. "Lynx menyelamatkan hidupku. Jika bukan karena dia, aku tidak akan berada di sini hari ini. Aku mendukungnya untuk bertarung mewakili keluarga kami."

Beberapa orang yang mendengar itu mulai berbisik. Rasa hormat mereka pada ayah Rira, salah satu tetua suku sebelumnya, membuat mereka mempertimbangkan kata-katanya.

Namun, Banu tidak terlihat puas. "Ini adalah urusan suku Raksa. Orang luar tidak punya tempat di sini."

"Dia bertarung untuk kami, bukan untuk dirinya sendiri," potong Rira dengan tegas. "Jika dia menang, posisi itu akan diserahkan kepada ayahku, salah satu tetua yang layak memimpin suku kita."

"Dan jika dia kalah?" Banu menyeringai.

"Kami menerima kekalahan dengan hormat," jawab Lynx. "Tapi aku yakin, aku tidak akan kalah."

Kerumunan mulai ramai dengan suara persetujuan dan keraguan. Akhirnya, salah satu panitia pertandingan, seorang pria tua dengan wajah keras bernama Arkha—kakak Banu—muncul di antara mereka.

"Cukup!" serunya. "Jika dia ingin bertarung, biarkan dia. Pertandingan ini terbuka untuk siapa saja yang ingin membuktikan diri."

Banu terlihat tidak senang, tapi tidak berani melawan kakaknya di depan semua orang. Ia hanya mendengus dan berjalan pergi, meninggalkan mereka.

Setelah perdebatan itu selesai, mereka bergabung dengan puluhan peserta lain yang berkumpul di tengah arena. Seorang panitia mengumumkan aturan babak penyisihan.

"Babak pertama adalah ujian kekuatan," katanya dengan suara lantang. "Setiap peserta akan diuji kekuatan mereka dengan cara sederhana: mendorong batu besar sejauh mungkin. Hanya yang terkuat yang akan lolos ke babak berikutnya."

Sebuah batu besar diletakkan di tengah arena, beratnya tampak luar biasa. Beberapa peserta tampak percaya diri, sementara yang lain terlihat ragu.

Narendra melangkah maju dengan semangat, meskipun keringat dingin membasahi dahinya. "Aku harus lolos," gumamnya pelan.

Kanha, yang berdiri di tepi arena, berteriak. "Ayo, Kak Narendra! Dorong batu itu seperti kau dorong aku ke dalam sungai waktu itu!"

Beberapa orang di sekitar mereka tertawa kecil, sementara Narendra memutar matanya. Ia menempatkan tangannya di batu itu, mengambil napas dalam-dalam, lalu mulai mendorong. Batu itu bergerak perlahan, meninggalkan jejak di tanah. Narendra mengerahkan seluruh kekuatannya, wajahnya merah padam, tapi berhasil mendorong batu itu cukup jauh untuk lolos ke babak berikutnya.

"Bagus!" teriak Kanha, melompat kegirangan.

Giliran Lynx tiba. Ia melangkah ke depan dengan tenang, membuat beberapa orang berbisik-bisik. Beberapa bahkan tertawa kecil, termasuk Banu.

"Batu itu akan menghancurkannya," gumam Banu dengan nada mengejek.

Namun, Lynx hanya tersenyum tipis. Dengan satu gerakan kuat, ia menempatkan tangannya di batu itu dan mendorongnya dengan mudah sejauh beberapa meter lebih jauh daripada peserta lainnya. Kerumunan langsung terdiam, lalu bergemuruh dengan suara kagum.

"Bagaimana dia bisa melakukannya?" bisik seseorang di kerumunan.

Banu menggertakkan giginya, tapi tidak berkata apa-apa.

Babak penyisihan terus berlanjut hingga hanya tersisa belasan peserta, termasuk Lynx, Narendra, Banu, dan Arkha. Meskipun babak pertama selesai, ketegangan di arena masih terasa. Lynx tahu bahwa ini baru permulaan, dan pertandingan sebenarnya baru akan dimulai.


